Senin, 15 Februari 2016

Mulai Membaca Lagi


If you feel you’re stupid, read books. If you think you’re smart, read more books

 Dalam beberapa waktu terakhir saya larut menikmati waktu yang ada. Mumpung kuliah belum mulai, sepulang kantor bisa kemanapun sesuka hati, jika tidak tertahan di kantor. Beberapa minggu di Januari memang sedikit membuat saya tertahan di kantor lebih lama dari biasanya. Sepulang dari kantor saya mainlah, makan diluarlah, ketemu temenlah, atau bengong dimana dululah, dan sebagainya. Lalu sampai di kostan jam sudah menunjukan pukul 22.00, saya capek dan langsung tidur. Atau jika tidak keluar saya akan langsung pulang. Setelah mendarat di kostan dalam beberapa menit kemudian nempel kasur dan langsung tidur. Yang terjadi setelah apapun yang saya lakukan di lauran sana, sampai di kostan yang bisa saya lakukan nempelin badan ke kasur dan beberapa menit kemudian akan langsung tertidur. Payah pikir saya. Dan ini terjadi tidak dalam kurun satu dua hari satu minggu dua minggu bahkan dalam waktu 1 bulan, sepanjang Januari. Bahkan sampai hari ini, saat saya sadar hari ini hari kelima Februari.  Bagaimana waktu bisa berjalan begitu cepat. 

Saya merasa tidak bisa melakukan apapun di kostan. Ada yang salah dengan kamar saya sepertinya. Salah karena terlalu nyaman untuk tidur. Sehabis solat rebahan kemudian tidur padahal awalnya berencana untuk mengaji. Atau baru mulai mengaji baru dapat satu dua halaman sandaran kemudian tidur. Terbangun dan sadar jika tertidur toh kemudian saya melanjutkan tidur. Atau di malam hari saya biasanya memilih baca buku. Dan selalu gagal menyelesaikan karena saya mudah sekali tidur. Hingga yang paling parah kemarin saat perjalanan pulang. Sebelumnya saya membeli buku, untuk referensi mengisi sharing yang saya rencanakan dapat saya selesaikan dalam satu hari. Nyatanya bukunya tidak sama sekali saya baca hingga sharing berakhir. Baru saya baca setelahnya dan tidak selesai. 

Saya merasa waktu saya habis tidak jelas juntrungannya untuk apa, berlalu begitu saya. Saya merasa kosong karena hampir sangat sedikit asupan yang masuk. Selama Januari saya hanya menyelesaikan dua buku. Buku pertama The Alpha Girl's Guide karangan Henry Manampiring, dan buku kedua Genap karangan Nazrul Anwar. Sudah hanya dua buku itu. Padahal stock bacaannya saya banyak, setidaknya lebih dari 6 buku yang belum saya baca, entah buku sendiri, buku pinjaman, hingga buku pemberian. Mulai dari genre buku yang lucu, sedikit serius, serius hingga serius sekali. Semuanya rapi tertumpuk di pojokan kamar tidak tersentuh.

Kemudian saya sadar, saya harus membaca buku, terlepas dari bacaan internet dan bacaan media sosial yang setiap harinya juga jadi asupan saya. Sayangnya tidak ada yang bisa menggantikan buku. Setidaknya membaca membuat saya menyeimbangkan diri, seimbang antara asupan masuk dan yang keluar. Dan membaca membuat asupan saya sedikit lebih bergizi. Saya memutuskan untuk mulai membaca lagi sedikit demi sedikit, ditengah terpaan aktivitas yang ada. 20 menit di pagi hari dan 20 menit menjelang tidur. Nah, bacaan ini diluar baca Al-Quran dan baca buku berat yang berhubungan dengan kuliah dan pekerjaan.

Semoga istiqomah!
Semoga waktu tidak berakhir sia-sia!

Kamis, 14 Januari 2016

2015 Highlight : Never Ending Story


Menyambut 2016 saya memutuskan untuk tidak banyak melakukan apa-apa, tidak pecicilan kesana kemari. Saya memilih untuk me-time, bersantai dan menikmati pergantian tahun, alih-alih berniat merenung.

2015 is such a great years with many lesson for me. Saya mencoba mengingat-ingat lagi apa yang sudah dan belum saya lakukan di 2015. Mengevaluasi diri. Apa yang sudah saya capai, apa yang sudah diberikan, keberkahan-keberkahan yang tidak ternilai, hingga apa yang saya inginkan tapi tidak tercapai . Saya bersyukur Allah berikan saya hidup di 2015.

Alhaamdulilah ala kulli haal.

Selasa, 22 September 2015

Resource Dependence dan Collaborative Network


Dalam keseharian ada yang kita sebut  sebagai hubungan (relationship) sebagai bentuk interaksi antar satu dengan yang lain. Hubungan ini juga yang terjadi dalam sebuah organisasi. Kelas saya semalam, membahas mengenai hubungan yang terjadi  antar organisasi (relationship between organization).
Salah satu yang terjadi atas hubungan antar organisasi adalah ketergantungan. Ada dua teori yang menjelaskan tentang ketergantungan yang terjadi antar organisasi yaitu resource dependence  dan collaborative network.

Senin, 22 Juni 2015

Memutuskan untuk Berjilbab

Memutuskan berjilbab bisa jadi adalah sebuah keputusan yang luar biasa. Namun tidak bagi saya. Saya lahir dari keluarga muslim yang walaupun saat itu kedua orang tua saya pun tidak mewajibkan saya berjilbab, dulu. Saya sedari kecil memakai jilbab hanya sekedar pada acara-acara tertentu atau momen-momen tertentu, waktu ngaji misalnya atau lebaran, atau pesantren kilat. Selebihnya saya tidak berjilbab, asik dengan gaya saya yang tomboy saat itu.  Dan Lita kecil pun beranjak remaja. Memasuki SMP, Ibu pernah menanyakan ke saya “Mbak, kamu mau pake jilbab gak? Kalau mau nanti seragamnya dipesankan untuk yang pake jilbab”. Karena memasuki SMP berarti kita akan mendapat seragam baru, dan di sekolah memang sejak penerimaan memberikan pilihan seragam pendek atau panjang (untuk berjilbab). Saya tidak serius menanggapi pertanyaan Ibu waktu itu, dan hanya menjawab sekenanya “Ah, enggak ah temen-temen juga gak pesen yang pake jilbab”. Alasan saya waktu itu teman saya belum ada yang berjilbab.
 

Kamis, 28 Mei 2015

Mencari Arti

Ada yang menarik dari sesi tanya jawab kelas saya Jumat lalu, kelas perilaku keorganisasian. Materi pembahasan mengenai Struktur Organisasi, seputar apa saja elemen dalam sturktur organisasi, karakteristis sistem birokrasi, hingga struktur organisasi yang berlaku dalam sebuah perusahaan.

Pertanyaan datang dari salah satu teman saya, pegawai Dirjen Pajak, pertanyaannya begini :
" Bagaimana menumbuhkan semangat atau mengatasi demotivasi atas bentukan struktur organisasi yang menyebabkan pegawainya ditempatkan di tempat nun jauh, karena memang skala geografis organisasi yang sangat luas"

Kasus tersebut adalah kasus yang ditemui teman saya di lingkungan kerjanya dimana salah satu rekannya, pegawai DJP mendapatkan penempatan di KPP Pratama Tobelo (silahkan teman-teman googling), dari cerita teman saya diketahui bahwa untuk mencapai tempat kerjanya tersebut (dari Jakarta) diperlukan waktu, 3 jam Jakarta ke Ternate dengan pesawat, lanjut 1,5 jam kapal feri, dan dilanjut dengan perjalanan darat selama 3-4 jam. Jadi total perjalanan sekitar 7-9 jam udara-laut-dan darat. *gak kebayang*.

Hasil diskusi dikelas memberikan jawaban bahwa dari sudut pandang organisasi hal tersebut bukan merupakan hal yang salah, ditinjau dari jangkauan geografis yang memang luas, dan fungsi dari organisasi yang memang dibutuhkan hingga jarak terluarnya. Namun tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga motivasi pegawai agar tidak menimbulkan demotivasi. Salah satu jawaban yang diajukan adalah dengan memberikan kepastian kapan pegawai tersebut akan dipindahkan lagi, ibaratnya dikeluarkan dari ring terluar, yang estimasi waktunya sekitar 2 hingga 4 tahun, organisasi perlu memastikan rolling pegawai secara teratur dan merata. Gampangnya kapan saya bisa keluar dari tempat nun jauh ini, dan pegawai dipaksa atau dijanjikan secara tidak langsung jika akan berada disana dalam kurun waktu tertentu dan kemudian akan dipindahkan. 

Pertanyaan tersebut membuat saya berpikir jauh. Pikiran ini membawa saya pada tulisan Pak Rhenald disini, dan juga pada tayangan Mata Najwa pada tanggal 20 Mei, sesi DARAH MUDA dimana menghadirkan berbagai anak muda dan peranannya. Saya sangat salut dengan orang-orang yang disebutkan baik dalam tulisan Pak Rhenal maupun Mata Najwa, mereka berkarya dan hidup, mereka bekerja dan berarti, memberikan makna pada pekerjaannya.
Mereka berkarya dan hidup, mereka bekerja dan berarti, memberikan makna pada pekerjaannya, pada apa yang mereka lakukan.
Kembali pada pertanyaan yang diajukan teman saya, lantas apa yang seharusnya organisasi lakukan agar pegawainya tidak demotivasi? Menurut saya perlu lebih dari upaya organisasi untuk menumbuhkan semangat pegawainya. Semangat dan motivasi terbaik adalah semangat yang datang dari dalam diri kita. Bagaimana sistem dalam sebuah organisasi yang akhirnya menumbuhkan motivasi internal pada pegawainya. Jawabannya adalah kesamaan visi dan kesamaan nilai. Visi dan nilai adalah hal terakhir yang mungkin bisa kita pegang saat kita mengalami kondisi terendah kita, dalam apapun, baik pekerjaan dsb. Namun berapa banyak pegawai yang akhirnya memiliki visi dan nilai yang sama dengan organisasinya? :D

Saya kemudian memikirkan apa yang saya cari dari pekerjaan saya? *very big question*. Saya sendiri dalam pekerjaan belum pernah mengalami apa yang dialami oleh pegawai DJP tersebut, ataupun orang-orang dalam tulisan Pak Rhenal dan Mata Najwa, saya belum se-struglle itu, belum banyak melewati ujian. Apa yang lantas kita cari? uang, ilmu, nilai, manfaat, jabatan, jaringan, akses, atau banyak atribut lainnya. Sampai sekarang pun saya belum menemukan jawabannya.
 Apa yang saya cari dari pekerjaan saya?
Tapi satu hal yang pasti, saya tahu apa yang ada dalam diri saya, apa yang ingin saya capai, walaupun masih abstrak. Sampai saat ini saya masih tetap mencari, terus mencari. Dan tidak boleh lelah atau menyerah.

Yosh. Mari terus mencari arti!

Ditulis di pojokan kubikel, sambil terus berkontemplasi.

Kamis, 30 April 2015

GEOTOUR 2015 : Yoga On The Hills

This is first time doing yoga, and I can't say anything but AMAAZIIIING.

So please enjoy the photo.










GEOTOUR 2015 : Experiencing Gunung Padang

Tujuan utama dari GEOTOUR 2015 ini adalah Situs Megalitikum Gunung Padang. Situs Gunung Padang di Kampung Gunung Padang dan Kampung Panggulan, Desa Karyamukti Kecamatan Campaka, Cianjur, konon merupakan situs megalitik berbentuk punden berundak yang terbesar di Asia Tenggara.

Salah satu yang menarik dari perjalanan ini adalah adanya sesi sharing dengan Pak Budi, geolog dari ITB. Beliau menceritakan sejarah dan isu yang berkembang dari kemunculan gunung padang ini.

Pertanyaan pertama yang beliau lempar adalah gunung padang ini alam atau buatan? Saya berpikir keras menemukan jawaban pertanyaan ini. Jika alam, bentuk dan susunan gunung padang terlalu rapi, namun jika buatan siapakah yang membuatnya? Dengan lekatnya yang cukup tinggi.

Untuk mencapai gunung padang sendiri, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit berjalan kaki, dari titik terakhir akses kendaraan/parkiran. 15 menit jalan menuju pintu depan situs gunung padang dan 30 menit berjalan melewati tangga dari pintu depan menuju situs gunung padang. Jalan yang dilewati adalah jalanan berundak yang cukup curam dan tinggi saya aja ngos-ngosan, maklum tidak olahraga dulu sebelumnya. Tapi termasuk sedang dan dapat dilewati untuk pemula. Pada geotour ini saja terdapat sekitar 3 anak seusia sekolah dasar yang berhasil melewatinya, masa yang dewasa gak bisa?

Kembali ke pertanyaan dari Pak Budi, Gunung Padang alami atau buatan? 
Coba jika kita bayangkan sarang laba-laba, sarang lebah, berbentuk hexagonal dan rapi, dan ini alami. Bentuk alam yang juga rapi, lainnya ada di Irlandia, Giant Costway dan di US Guayung Ming atau Devis Tower.

Guayung Ming di US

Giant Costway di Irlandia

Ternyata begitu pula yang terjadi di Gunung Padang.
Pada tahun 2014 telah dilakukan Penelitian Tim Terpadu Riset Mandiri yang digawangi oleh TNI  dalam rangka pelestarian dan pengelolaan Situs Gunung Padang.

Hasil penelitian itu juga sudah dipublikasikan secara luas, bisa dilihat disini, atau untuk teman-teman yang penasaran bisa juga lihat diskusi kaskuser ini.

Terlepas dari apakah Gunung Padang alam atau buatan, kita sebagai anak Indonesia yang memiliki Situs Gunung Padang ini mari lestarikan dengan bijak!

Nah ini dia foto-foto keelokan Gunung Padang.













Rabu, 29 April 2015

Ngobis : Bisnis Hijab di Indonesia dengan Nela, Owner Melangit


Ngobis ini adalah singkatan dari ngobrol bisnis, agenda sharing dan diskusi seputar bisnis yang diinisiasi oleh teman-teman PengusahaKampus (di mana saya tergabung di dalamnya).
Agenda Ngobis kali ini, adalah Bisnis Hijab di Indonesia, dengan menghadirkan Mbak Nela, owner dari Melangit. Melangit ini adalah brand hijab yang diusung sejak tahun 2012 dengan tagline Support You to Syari. Saat ini, Melangit telah memasuki tahun ketiganya dan telah berbadan hukum PT Melangit Kreasi Semesta, dengan kantor pusat di Dago, Bandung.



Jumat, 17 April 2015

GEOTOUR 2015 : Destinasi Cianjur


Lama sekali rasanya sejak terakhir posting Maret lalu blog ini dibiarkan kosong melompong. Bukannya tidak ada ide tapi memang sedang sangat disibukan dengan berbagai tugas pekerjaan, kuliah dan kesibukan lainnya. Weekend pun selalu diisi dengan berbagai aktivitas entah berkeliaran kemana jadilah jarang nongkrong di depan laptop melakukan hal produktif, menulis.

Nah kali ini, saya mau menceritakan perjalanan saya bulan lalu, ke salah satu kota di Jawa Barat, Cianjur. Tepatnya 14 Maret 2015, saya dan teman saya, Kak Vanny, mengikuti salah satu trip yang diadakan oleh Black Trailers Community. Berawal dari postingan Kak Johar di instagramnya tentang acara ini. Saya langsung googling dan cari info tentang Black Trailers Community dan GEOTOUR-nya. Merasa tertarik saya langsung hubungi Kak Vanny. Dan dia langsung say "yes". Jadilah kami berdua mengikuti trip yang diselenggarakan Black Trailers Community ini.

Selasa, 03 Maret 2015

Kado dari Seorang Kakak

Beberapa waktu yang lalu saya berulang tahun. Sekarang usia saya tidak hanya berkepala 2 tapi juga berekor 1. Hal yang menggembirakan setiap ulang tahunmu datang adalah doa-doa yang diucapkan oleh orang-orang tersayang yang ada disekeliling kita. Itu pula yang terjadi di ulang tahun saya yang ke-21.

Dan hal spesial lainnya adalah sebait doa yang terangkai dalam tulisan dari seorang Kakak, yang saya kenal sejak tahun pertama saya berkuliah sebagai kakak tingkat di UISDP, yang kemudian menjadi teman satu kostan, teman satu Swayanaka, teman liqo, teman ngobrol, teman berantem, teman bully-bullyan, teman yang lebih dari sekedar teman.

Tulisan yang sangat manis. Aaaah, aku speechless kak!
Sungguh terima kasih untuk kado manis nya, terima kasih untuk persahabatan yang semoga tiada putus! Semoga Allah mempertemukan kita di Surga-Nya kelak! Amiin

Saya bersyukur bisa mengenalmu Kak. Semoga Allah limpahkan keberkahan yang tiada putus untuk mu yaa Kakaku!

Semoga kamu tiada lelah mengingatkanku yaa Kakak.Maklum adik kecilmu ini sepertinya belum juga jera. :D

Cheers,
Si kecil, Lita.


Salah satu kutipan yang saya paling suka dari kadonya.
 Ketika orang menanyakan umurmu, apa jawabanmu? Umurmu yang sebenarnya bukanlah jumlah tahun semenjak kelahiranmu, melainkan adalah apa yang kamu inginkan : Menjadi bijaksana seperti orang berumur 70, energik seperti orang berumur 20, atau polos seperti anak berumur 7 tahun? tapi yang paling penting dari itu semua adalah hitunglah tahun-tahun dimana kamu bersama Allah, mulai menjadi Muslim sejati, karena pada akhirnya, hanya itulah umurmu yang berarti nanti"
Kado lengkapnya bisa dibaca disini,


"

Selasa, 17 Februari 2015

Senyummu, Senyum Anak Indonesia







 All photo taken by Syahran Septian.
@Creative Camp "Aku dan Indonesiaku", Swayanaka Indonesia reg.Jakarta
17-18 January 2015 Bumi Perkemahan Cibubur

 

Kilas Balik 2014 (20 tahun)

Dalam beberapa jam kedepan usia saya akan segera bertambah, memasuki kepada dua dengan imbuhan angka satu dibelakangnya. Sedari pagi saya bangun bayangan 20 tahun yang sudah saya lewati muncul satu persatu, bagaimana masa kecil saya, hingga bagaimana saya menghabiskan usia 20 saya. Kalau ditanya bagaimana 20 mu? Usia 20 itu rasanya terlalu nano-nano. Ya, rame rasanya. Saya sendiri bingung menggambarkannya. Usia 20 kemarin atau bahkan hingga hari ini adalah masa-masa transisi saya, masa transisi dari dari mahasiswa jadi anak magang yang kemudian melewati probation dan akhirnya menjadi pegawai tetap, masa transisi dari full time student menjadi part time student and worker, masa transisi menyelesaikan kepengurusan yayasan, hingga masa transisi saya meninggalkan Depok dan memilih Kelapa Gading. 

Jika dirangkum 20 tahun atau mungkin 2014 adalah masa di mana, “Decision is never easy”. Tapi kata Patrick Star,Everything will be okay in the end. If it's not okay, it's not the end.” So 2014 is not the end, it’s a starting. Memulai banyak hal baru.
2014 adalah tahun yang sangat nano-nano, tahun yang luar biasa bagi saya. Tulisan ini akan menggambarkan cerita saya sepanjang 2014. 

Senin, 01 Desember 2014

Mereka Akan Pindah


Bagian rumah yang sudah mulai dirobohkan sedikit demi sedikit


Can you spot the different?



Tampak jalanan yang akan dibangun

Para pekerja jalan

Nazwa - Diva - Ara - Dwi

Mereka tetap tersenyum kan?

Ya, mereka akan pindah.

Kamis, 13 November 2014

What do you learn from life?


One young man went to apply for a managerial position in a big company. He passed the initial interview, and now would meet the director for the final interview.

The director discovered from his CV that the youth's academic achievements were excellent. He asked, "Did you obtain any scholarships in school?" the youth answered "no".

" Was it your father who paid for your school fees?"
"My father passed away when I was one year old, it was my mother who paid for my school fees.” he replied.
" Where did your mother work?"
"My mother worked as clothes cleaner.”
The director requested the youth to show his hands. The youth showed a pair of hands that were smooth and perfect.
" Have you ever helped your mother wash the clothes before?"
"Never, my mother always wanted me to study and read more books. Besides, my mother can wash clothes faster than me.

The director said, "I have a request. When you go home today, go and clean your mother's hands, and then see me tomorrow morning.

The youth felt that his chance of landing the job was high. When he went back home, he asked his mother to let him clean her hands. His mother felt strange, happy but with mixed feelings, she showed her hands to her son.
The youth cleaned his mother's hands slowly. His tear fell as he did that. It was the first time he noticed that his mother's hands were so wrinkled, and there were so many bruises in her hands. Some bruises were so painful that his mother winced when he touched it.

This was the first time the youth realized that it was this pair of hands that washed the clothes everyday to enable him to pay the school fees. The bruises in the mother's hands were the price that the mother had to pay for his education, his school activities and his future.

After cleaning his mother hands, the youth quietly washed all the remaining clothes for his mother.
That night, mother and son talked for a very long time.
Next morning, the youth went to the director's office.

The Director noticed the tears in the youth's eyes, when he asked: "Can you tell me what have you done and learned yesterday in your house?"

The youth answered," I cleaned my mother's hand, and also finished cleaning all the remaining clothes'
“I know now what appreciation is. Without my mother, I would not be who I am today. By helping my mother, only now do I realize how difficult and tough it is to get something done on your own. And I have come to appreciate the importance and value of helping one’s family.

The director said, "This is what I am looking for in a manager. I want to recruit a person who can appreciate the help of others, a person who knows the sufferings of others to get things done, and a person who would not put money as his only goal in life.”

“You are hired.”
_________________________________________________________________________________________

A child, who has been protected and habitually given whatever he wanted, would develop an "entitlement mentality" and would always put himself first. He would be ignorant of his parent's efforts. If we are this kind of protective parents, are we really showing love or are we destroying our children instead?

You can let your child live in a big house, eat a good meal, learn piano, watch on a big screen TV. But when you are cutting grass, please let them experience it. After a meal, let them wash their plates and bowls together with their brothers and sisters. It is not because you do not have money to hire a maid, but it is because you want to love them in a right way. You want them to understand, no matter how rich their parents are, one day their hair will grow gray, same as the mother of that young person. The most important thing is your child learns how to appreciate the effort and experience the difficulty and learns the ability to work with others to get things done.
Try to forward this story to as many as possible.. This may change somebody's life


From Grup Whatsapp Swayanaka Jakarta
Photo from here.

Selasa, 04 November 2014

10 Things That Truly Passionate People Do Differently


Being passionate is important in life, but it also can be difficult to deal with. Just like with all good things, too much of it can be damaging. However, passionate people, overall, do live happier and better lives than the average individual.
Passions give us purpose, but more than that, they make us feel that we have purpose in our lives. Being passionate isn’t just about knowing – it’s also about feeling. That’s what makes passions so important; they make us feel that we’re on the right path in life and give us hope for a happy and exciting future.
Passionate people lead significantly different lives from their less-than-enthusiastic counterparts. Here are 10 things that passionate people do differently and the good and bad that comes of it.

1. Start their days early.

It’s not that passionate people don’t enjoy sleeping – they do. It’s just that once they’re up, they get excited about the work ahead of them. Even if the particular project or tasks they will be working on may not excite them, their future aspirations and the passion they have for what they do drive them to get out of bed rather quickly. Passionate people are all about doing and you can’t do much if you spend half the day sleeping.

2. Always have their passions on their mind.

They’re basically obsessed – hopefully in a healthy manner. Healthy passions are healthy obsessions. You can’t keep your mind from returning to the topic and can’t help but get excited by those thoughts. Passionate people live in a world in which the few things that matter to them in life basically involve the passions they love.

3. Get excited more than the average person.

Passionate individuals may not always feel excited – no one is excited all the time – but when they get excited, they get excited more fully, for a longer duration and, overall, more frequently.
It’s because they have more in their lives to get excited about. They devote their time to usually one or two things and therefore make more progress than those who split their time amongst many things. The momentum keeps them excited.

4. Get pissed off and emotional more than the average person.

Just as the passionate get excited, they also can come off as very moody. They go from happy and excited to pissed off and miserable. Because they are passionate, they are much more emotionally connected to whatever it is they are doing – so when things go well, the world is a beautiful place, but when things go awry, sh*t gets real very quickly.

5. Willing to risk more and put more on the line.

If you’re passionate, you have a clear understanding of what your purpose in life is – if only your purpose for that very moment. For this reason, you give much less importance to other things. Therefore you’re willing to risk more for the thing(s) that you find most important, that you are most passionate about. Those that are passionate are much more willing to give up things that don’t fall in their scope of passion.

6. Devote their lives to their dreams.

Life is filled with things worth doing and things not worth doing. That which we are most passionate about is what we believe to be worthwhile, everything else seems to be wasteful and lacking. Passionate individuals gradually gravitate towards their passions and away from the rest that life has to offer. They know what will make them happy and are willing to ignore the rest.

7. Surround themselves with their work.

People say that it isn’t good to bring work home. However, for the most passionate, work is home. It’s not possible for these individuals not to bring their work home because their work is in them and reflects in everything they have and do. But it doesn’t feel like work to them. It feels like life.

8. Can’t help but talk about their projects.

They know that you probably don’t want to hear about it because you hear about it all the time, but they don’t really want to talk about much else. And even if they do, their conversations almost always steer back to their passions. They can’t help it because they don’t see their passions as separate from themselves; they are their passions.

9. Tend to either be pushing ahead full throttle or are completely still.

Passionate people aren’t always the best at balancing their lives. They get overly excited and push themselves to their limits. They love working and love moving forward quickly. But they eventually do run out of steam and crash. Only the seasoned and wise passionate individuals have learned to balance havoc and calm in a healthy manner.

10. Always think positively about the future.

Their minds are always looking ahead, looking at what can be instead of what is. This has its good sides and bad, but nevertheless, they are always thinking about their next move.
The one great outcome is that they always have something to look forward to and are excited to make it happen. As long as they remember to hang around in the present from time to time, they don’t run into too much trouble.
Photo credit: The Aviator.
Sources : here

Rabu, 29 Oktober 2014

Mengenal

Pernah merasa sudah mengenal seseorang

Mengenal bagaimana kesehariannya

Mengenal bagaiamana sikapnya

Mengenal bagaimana perilakunya

Pernah merasa sudah mengenalkan dirimu

Mengenalkan bagaimana keseharianmu

Mengenalkan bagaimana sikapmu

Mengenalkan bahkan bagaimana perilakumu

Taukah, sebenarnya apa yang kamu kenal hanya sebatas apa yang dia ingin tunjukan kepadamu

Dan taukah, apa yang kamu kenalkan kepada orang lain pun sebatas apa yang kamu ingin tunjukan

Kartu Ujian : Sudahkah kamu bersikap kritis?

2 minggu ini saya sedang menjalani masa-masa UTS (Ujian Tengah Semester). Ini ujian pertama saya di PE FE UI. Jika ditanya bagaimana rasanya? Saya bahkan tidak bisa benar-benar menggambarkan bagaimana. Ujian disini sangat berbeda dengan saya yang sebelumnya di Vokasi. Pertama dari bahan ujian, 5 matkul dengan masing-masing 10 chapter(ini udah mabok rasany). Selanjutnya toleransi keterlambatan, di PEFE toleransi keterlambatan ujian hanya 15 menit, lebih dari itu tidak akan bisa mengikuti ujian, di Vokasi, mau kamu telat berapa menit juga, kamu bisa masih tetap bisa mengikuti ujian. Lainnya, kartu ujian, tidak membawa kartu ujian dengan alasan apapun kamu akan didenda 50rb.

Hari itu, Senin, ujian Manajemen Keuangan, mahanya kelima mata kuliah. Dan di hari itu juga saya tidak masuk ke kantor sodara, kalau ditanya kenapa, saya meriang, perut kembung hasil begadang bersama kopi. Dengan santainya, merasa belajar udah beres, bisa fresh berangkat ke kampus karena gak ngantor, saya santai-santai aja siapin bahan yang akan dibawa ke kampus. Setelah memilah akhirnya memutuskan untuk  membawa, notes, tempat pensil, kalkulator, latihan-latihan soal minus buku besar, dan dompet. Hari itu bawaannya memang super simple. Dan saya gak juga sadar kalau ada hal yang lebih penting dari itu semua, tertinggal.

Sampai di parkiran kampus, ada salah seorang teman di sebrang yang nyeletuk “Eh bentar gue cari kartu ujian dulu yaa”. Saya langsung refleks teriak gara-gara baru sadar gak bawa kartu ujian, langsung cek tas dan ternyata memang gak ada. Ya sudahlah berarti memang harus ke Sekre dan membayangkan akan membayar 50rb *haft*. Kemudian saya langsung solat dan ngacir ke Sekre. Sampai di sekre saya bilang ke ibu TU.

Lita         : “Bu, kartu ujian saya ketinggalan, biar bisa ikut ujian gimana ya bu?”
Bu TU    : “ Denda 50rb ya Mbak, nanti kartunya saya cetakan duplikatnya”
Lita         : >,<

Sumpah super shocked, walaupun udah tau harus bayar 50rb, baru sadar kalau aturan itu beneran, bukan trigger semata. Daripada panjang lebar, saya langsung menyodorkan 30rb (berhub cuma ada recehan 30rb), karena kurang KTM saya ditahan sementara.

Disaat yang sama saya melihat teman saya satu kelas saya, Kak L, sedang duduk di dalam ruangan Sekre dan terlihat dari samping menyeka air mata. Saya gak tau kenapa, tapi pas Kak L keluar mukanya merah, dan sepertinya menangis.

Saat itu juga saya ingin menanyakan  tapi saya urungkan mengingat waktu ujian sudah mulai.
20 menit berselang, ada orang Sekre yang masuk ke ruangan saya dan memberikan kartu ujian ke Kak L.

Oh, ternyata tadi Kak L gak bawa kartu, tapi kenapa nangis yaaa. Dalam benak saya. Tapi hari itu saya masih urung menanyakan.

Dua hari setelahnya, kami bertemu lagi, saya dan kak L, sehabis ujian Statistika. Kemudian kami solat jamaah Isha bersama.
Sehabis solat saya tanyakan lah, kejadian di Senin itu, dimana kak L menangis, setelah keluar dari Sekre.
Lita         : “ Kak L, kemarin kakak kenapa waktu keluar dari Sekre itu.”
Kak L      : “Kapan ya ta?”
Lita         : “ Senin kak, waktu ujian MK, yang kakak gak bawa kartu ujian itu”
Kak L      : “Oh itu. Kamu lihat aku nangis kan ya. Hari itu aku bête bangeet. Aku gak bawa kartu ujian, ketinggalan di kantor, gak mungkin dong udah sampe sini balik ke kantor lagi buat ambil kartu. Aku langsung ke sekre dan aku kaget suruh bayar 50rb. Gak maulah aku. Masa iya Cuma gara-gara ketinggalan kartu, yang bahkan bisa aku cetak sendiri harus bayar semahal itu. Apa alasannya coba kalau bukan komersil”
Lita         : (termenung)
Kak L      : “Terus aku gak mau bayar, dan aku diminta masuk ke ruangan sekre. Aku tanyalah pihak Kabag TU nya yang waktu itu aku temui. Mulai dari esensi pembayaran, ini aturan atau kebijakan, sampai tujuannya apa, kalau bukan komersil semata. Katanya buat efek jeralah. Aku adu argument tu, sampai akhirnya aku keluar ruangan dan aku tetep gak mau bayar. Tapi ya KTM ku disita sih. Masa iya kita bayar untuk sesuatu yang gak jelas esensi dan tujuannya apa?”

Saat itu, saya langsung merasa tertohok-tohor sama cerita kak L. Saya menjadi orang yang hanya follow the system tanpa tau kenapa akhirnya sistem menjadi seperti itu.

Disinilah kita pada umumnya, tidak mau tau lebih lanjut hanya mau mudahnya saja. Ya daripada ribet berdebat udah bayar aja kamu bisa langsung ujian. Its easy right? Even its too expensive.
Ini benar-benar menjadi pelajaran, bahwa kita harus kritis dengan aturan-aturan yang ada di sekitar kita, kenapa aturan dibuat seperti itu, untuk apa aturan dibuat dsb. Bisa saja tindakan yang saya lakukan itu menjadi salah satu bentu pungli yang ujungnya bahkan bisa mengarah ke korupsi.

So, are you critical enough?