“Live each day as if it’s your last. Change lives through art maybe. Write beautifully. Cherish your friends, stay true to your principles, live passionately and fully and well. Experience new things. Love and be loved if at all possible.” ― David Nicholls
Kamis, 14 Januari 2016
2015 Highlight : Never Ending Story
Menyambut 2016 saya memutuskan untuk tidak banyak melakukan apa-apa, tidak pecicilan kesana kemari. Saya memilih untuk me-time, bersantai dan menikmati pergantian tahun, alih-alih berniat merenung.
2015 is such a great years with many lesson for me. Saya mencoba mengingat-ingat lagi apa yang sudah dan belum saya lakukan di 2015. Mengevaluasi diri. Apa yang sudah saya capai, apa yang sudah diberikan, keberkahan-keberkahan yang tidak ternilai, hingga apa yang saya inginkan tapi tidak tercapai . Saya bersyukur Allah berikan saya hidup di 2015.
Alhaamdulilah ala kulli haal.
Selasa, 22 September 2015
Resource Dependence dan Collaborative Network
Dalam keseharian ada yang kita sebut sebagai hubungan (relationship) sebagai bentuk interaksi antar satu dengan yang lain. Hubungan ini juga yang terjadi dalam sebuah organisasi. Kelas saya semalam, membahas mengenai hubungan yang terjadi antar organisasi (relationship between organization).
Salah satu yang terjadi atas
hubungan antar organisasi adalah ketergantungan. Ada dua teori yang menjelaskan
tentang ketergantungan yang terjadi antar organisasi yaitu resource dependence dan collaborative network.
Senin, 22 Juni 2015
Memutuskan untuk Berjilbab
Memutuskan
berjilbab bisa jadi adalah sebuah keputusan yang luar biasa. Namun tidak bagi
saya. Saya lahir dari keluarga muslim yang walaupun saat itu kedua orang tua
saya pun tidak mewajibkan saya berjilbab, dulu. Saya sedari kecil memakai
jilbab hanya sekedar pada acara-acara tertentu atau momen-momen tertentu, waktu
ngaji misalnya atau lebaran, atau pesantren kilat. Selebihnya saya tidak
berjilbab, asik dengan gaya saya yang tomboy saat itu. Dan Lita kecil pun beranjak remaja. Memasuki
SMP, Ibu pernah menanyakan ke saya “Mbak, kamu mau pake jilbab gak? Kalau mau
nanti seragamnya dipesankan untuk yang pake jilbab”. Karena memasuki SMP
berarti kita akan mendapat seragam baru, dan di sekolah memang sejak penerimaan
memberikan pilihan seragam pendek atau panjang (untuk berjilbab). Saya tidak
serius menanggapi pertanyaan Ibu waktu itu, dan hanya menjawab sekenanya “Ah,
enggak ah temen-temen juga gak pesen yang pake jilbab”. Alasan saya waktu itu
teman saya belum ada yang berjilbab.
Kamis, 28 Mei 2015
Mencari Arti
Ada yang menarik dari sesi tanya jawab kelas saya Jumat lalu, kelas perilaku keorganisasian. Materi pembahasan mengenai Struktur Organisasi, seputar apa saja elemen dalam sturktur organisasi, karakteristis sistem birokrasi, hingga struktur organisasi yang berlaku dalam sebuah perusahaan.
Pertanyaan datang dari salah satu teman saya, pegawai Dirjen Pajak, pertanyaannya begini :
" Bagaimana menumbuhkan semangat atau mengatasi demotivasi atas bentukan struktur organisasi yang menyebabkan pegawainya ditempatkan di tempat nun jauh, karena memang skala geografis organisasi yang sangat luas"
Kasus tersebut adalah kasus yang ditemui teman saya di lingkungan kerjanya dimana salah satu rekannya, pegawai DJP mendapatkan penempatan di KPP Pratama Tobelo (silahkan teman-teman googling), dari cerita teman saya diketahui bahwa untuk mencapai tempat kerjanya tersebut (dari Jakarta) diperlukan waktu, 3 jam Jakarta ke Ternate dengan pesawat, lanjut 1,5 jam kapal feri, dan dilanjut dengan perjalanan darat selama 3-4 jam. Jadi total perjalanan sekitar 7-9 jam udara-laut-dan darat. *gak kebayang*.
Hasil diskusi dikelas memberikan jawaban bahwa dari sudut pandang organisasi hal tersebut bukan merupakan hal yang salah, ditinjau dari jangkauan geografis yang memang luas, dan fungsi dari organisasi yang memang dibutuhkan hingga jarak terluarnya. Namun tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga motivasi pegawai agar tidak menimbulkan demotivasi. Salah satu jawaban yang diajukan adalah dengan memberikan kepastian kapan pegawai tersebut akan dipindahkan lagi, ibaratnya dikeluarkan dari ring terluar, yang estimasi waktunya sekitar 2 hingga 4 tahun, organisasi perlu memastikan rolling pegawai secara teratur dan merata. Gampangnya kapan saya bisa keluar dari tempat nun jauh ini, dan pegawai dipaksa atau dijanjikan secara tidak langsung jika akan berada disana dalam kurun waktu tertentu dan kemudian akan dipindahkan.
Pertanyaan tersebut membuat saya berpikir jauh. Pikiran ini membawa saya pada tulisan Pak Rhenald disini, dan juga pada tayangan Mata Najwa pada tanggal 20 Mei, sesi DARAH MUDA dimana menghadirkan berbagai anak muda dan peranannya. Saya sangat salut dengan orang-orang yang disebutkan baik dalam tulisan Pak Rhenal maupun Mata Najwa, mereka berkarya dan hidup, mereka bekerja dan berarti, memberikan makna pada pekerjaannya.
Saya kemudian memikirkan apa yang saya cari dari pekerjaan saya? *very big question*. Saya sendiri dalam pekerjaan belum pernah mengalami apa yang dialami oleh pegawai DJP tersebut, ataupun orang-orang dalam tulisan Pak Rhenal dan Mata Najwa, saya belum se-struglle itu, belum banyak melewati ujian. Apa yang lantas kita cari? uang, ilmu, nilai, manfaat, jabatan, jaringan, akses, atau banyak atribut lainnya. Sampai sekarang pun saya belum menemukan jawabannya.
Yosh. Mari terus mencari arti!
Ditulis di pojokan kubikel, sambil terus berkontemplasi.
Pertanyaan datang dari salah satu teman saya, pegawai Dirjen Pajak, pertanyaannya begini :
" Bagaimana menumbuhkan semangat atau mengatasi demotivasi atas bentukan struktur organisasi yang menyebabkan pegawainya ditempatkan di tempat nun jauh, karena memang skala geografis organisasi yang sangat luas"
Kasus tersebut adalah kasus yang ditemui teman saya di lingkungan kerjanya dimana salah satu rekannya, pegawai DJP mendapatkan penempatan di KPP Pratama Tobelo (silahkan teman-teman googling), dari cerita teman saya diketahui bahwa untuk mencapai tempat kerjanya tersebut (dari Jakarta) diperlukan waktu, 3 jam Jakarta ke Ternate dengan pesawat, lanjut 1,5 jam kapal feri, dan dilanjut dengan perjalanan darat selama 3-4 jam. Jadi total perjalanan sekitar 7-9 jam udara-laut-dan darat. *gak kebayang*.
Hasil diskusi dikelas memberikan jawaban bahwa dari sudut pandang organisasi hal tersebut bukan merupakan hal yang salah, ditinjau dari jangkauan geografis yang memang luas, dan fungsi dari organisasi yang memang dibutuhkan hingga jarak terluarnya. Namun tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga motivasi pegawai agar tidak menimbulkan demotivasi. Salah satu jawaban yang diajukan adalah dengan memberikan kepastian kapan pegawai tersebut akan dipindahkan lagi, ibaratnya dikeluarkan dari ring terluar, yang estimasi waktunya sekitar 2 hingga 4 tahun, organisasi perlu memastikan rolling pegawai secara teratur dan merata. Gampangnya kapan saya bisa keluar dari tempat nun jauh ini, dan pegawai dipaksa atau dijanjikan secara tidak langsung jika akan berada disana dalam kurun waktu tertentu dan kemudian akan dipindahkan.
Pertanyaan tersebut membuat saya berpikir jauh. Pikiran ini membawa saya pada tulisan Pak Rhenald disini, dan juga pada tayangan Mata Najwa pada tanggal 20 Mei, sesi DARAH MUDA dimana menghadirkan berbagai anak muda dan peranannya. Saya sangat salut dengan orang-orang yang disebutkan baik dalam tulisan Pak Rhenal maupun Mata Najwa, mereka berkarya dan hidup, mereka bekerja dan berarti, memberikan makna pada pekerjaannya.
Mereka berkarya dan hidup, mereka bekerja dan berarti, memberikan makna pada pekerjaannya, pada apa yang mereka lakukan.Kembali pada pertanyaan yang diajukan teman saya, lantas apa yang seharusnya organisasi lakukan agar pegawainya tidak demotivasi? Menurut saya perlu lebih dari upaya organisasi untuk menumbuhkan semangat pegawainya. Semangat dan motivasi terbaik adalah semangat yang datang dari dalam diri kita. Bagaimana sistem dalam sebuah organisasi yang akhirnya menumbuhkan motivasi internal pada pegawainya. Jawabannya adalah kesamaan visi dan kesamaan nilai. Visi dan nilai adalah hal terakhir yang mungkin bisa kita pegang saat kita mengalami kondisi terendah kita, dalam apapun, baik pekerjaan dsb. Namun berapa banyak pegawai yang akhirnya memiliki visi dan nilai yang sama dengan organisasinya? :D
Saya kemudian memikirkan apa yang saya cari dari pekerjaan saya? *very big question*. Saya sendiri dalam pekerjaan belum pernah mengalami apa yang dialami oleh pegawai DJP tersebut, ataupun orang-orang dalam tulisan Pak Rhenal dan Mata Najwa, saya belum se-struglle itu, belum banyak melewati ujian. Apa yang lantas kita cari? uang, ilmu, nilai, manfaat, jabatan, jaringan, akses, atau banyak atribut lainnya. Sampai sekarang pun saya belum menemukan jawabannya.
Apa yang saya cari dari pekerjaan saya?Tapi satu hal yang pasti, saya tahu apa yang ada dalam diri saya, apa yang ingin saya capai, walaupun masih abstrak. Sampai saat ini saya masih tetap mencari, terus mencari. Dan tidak boleh lelah atau menyerah.
Yosh. Mari terus mencari arti!
Ditulis di pojokan kubikel, sambil terus berkontemplasi.
Kamis, 30 April 2015
GEOTOUR 2015 : Experiencing Gunung Padang
Tujuan utama dari GEOTOUR 2015 ini adalah Situs Megalitikum Gunung Padang. Situs Gunung Padang di Kampung Gunung Padang dan Kampung Panggulan, Desa
Karyamukti Kecamatan Campaka, Cianjur, konon merupakan situs megalitik
berbentuk punden berundak yang terbesar di Asia Tenggara.
Salah satu yang menarik dari perjalanan ini adalah adanya sesi sharing dengan Pak Budi, geolog dari ITB. Beliau menceritakan sejarah dan isu yang berkembang dari kemunculan gunung padang ini.
Pertanyaan pertama yang beliau lempar adalah gunung padang ini alam atau buatan? Saya berpikir keras menemukan jawaban pertanyaan ini. Jika alam, bentuk dan susunan gunung padang terlalu rapi, namun jika buatan siapakah yang membuatnya? Dengan lekatnya yang cukup tinggi.
Untuk mencapai gunung padang sendiri, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit berjalan kaki, dari titik terakhir akses kendaraan/parkiran. 15 menit jalan menuju pintu depan situs gunung padang dan 30 menit berjalan melewati tangga dari pintu depan menuju situs gunung padang. Jalan yang dilewati adalah jalanan berundak yang cukup curam dan tinggi saya aja ngos-ngosan,maklum tidak olahraga dulu sebelumnya. Tapi termasuk sedang dan dapat dilewati untuk pemula. Pada geotour ini saja terdapat sekitar 3 anak seusia sekolah dasar yang berhasil melewatinya, masa yang dewasa gak bisa?
Kembali ke pertanyaan dari Pak Budi, Gunung Padang alami atau buatan?
Coba jika kita bayangkan sarang laba-laba, sarang lebah, berbentuk hexagonal dan rapi, dan ini alami. Bentuk alam yang juga rapi, lainnya ada di Irlandia, Giant Costway dan di US Guayung Ming atau Devis Tower.
Ternyata begitu pula yang terjadi di Gunung Padang.
Pada tahun 2014 telah dilakukan Penelitian Tim Terpadu Riset Mandiri yang digawangi oleh TNI dalam rangka pelestarian dan pengelolaan Situs Gunung Padang.
Hasil penelitian itu juga sudah dipublikasikan secara luas, bisa dilihat disini, atau untuk teman-teman yang penasaran bisa juga lihat diskusi kaskuser ini.
Terlepas dari apakah Gunung Padang alam atau buatan, kita sebagai anak Indonesia yang memiliki Situs Gunung Padang ini mari lestarikan dengan bijak!
Nah ini dia foto-foto keelokan Gunung Padang.
Salah satu yang menarik dari perjalanan ini adalah adanya sesi sharing dengan Pak Budi, geolog dari ITB. Beliau menceritakan sejarah dan isu yang berkembang dari kemunculan gunung padang ini.
Pertanyaan pertama yang beliau lempar adalah gunung padang ini alam atau buatan? Saya berpikir keras menemukan jawaban pertanyaan ini. Jika alam, bentuk dan susunan gunung padang terlalu rapi, namun jika buatan siapakah yang membuatnya? Dengan lekatnya yang cukup tinggi.
Untuk mencapai gunung padang sendiri, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit berjalan kaki, dari titik terakhir akses kendaraan/parkiran. 15 menit jalan menuju pintu depan situs gunung padang dan 30 menit berjalan melewati tangga dari pintu depan menuju situs gunung padang. Jalan yang dilewati adalah jalanan berundak yang cukup curam dan tinggi saya aja ngos-ngosan,
Kembali ke pertanyaan dari Pak Budi, Gunung Padang alami atau buatan?
Coba jika kita bayangkan sarang laba-laba, sarang lebah, berbentuk hexagonal dan rapi, dan ini alami. Bentuk alam yang juga rapi, lainnya ada di Irlandia, Giant Costway dan di US Guayung Ming atau Devis Tower.
![]() |
| Guayung Ming di US |
| Giant Costway di Irlandia |
Ternyata begitu pula yang terjadi di Gunung Padang.
Pada tahun 2014 telah dilakukan Penelitian Tim Terpadu Riset Mandiri yang digawangi oleh TNI dalam rangka pelestarian dan pengelolaan Situs Gunung Padang.
Hasil penelitian itu juga sudah dipublikasikan secara luas, bisa dilihat disini, atau untuk teman-teman yang penasaran bisa juga lihat diskusi kaskuser ini.
Terlepas dari apakah Gunung Padang alam atau buatan, kita sebagai anak Indonesia yang memiliki Situs Gunung Padang ini mari lestarikan dengan bijak!
Nah ini dia foto-foto keelokan Gunung Padang.
Rabu, 29 April 2015
Ngobis : Bisnis Hijab di Indonesia dengan Nela, Owner Melangit
Ngobis ini adalah singkatan dari ngobrol bisnis, agenda sharing dan diskusi seputar bisnis yang diinisiasi oleh teman-teman PengusahaKampus (di mana saya tergabung di dalamnya).
Agenda Ngobis kali ini, adalah Bisnis Hijab di Indonesia,
dengan menghadirkan Mbak Nela, owner dari Melangit. Melangit ini adalah brand
hijab yang diusung sejak tahun 2012 dengan tagline Support You to Syari. Saat ini, Melangit telah memasuki tahun ketiganya dan
telah berbadan hukum PT Melangit Kreasi Semesta, dengan kantor pusat di Dago,
Bandung.

Langganan:
Postingan (Atom)






